Data Flow Diagram (DFD): Pengertian, Jenis, Fungsi dan Contohnya

Buat Anda yang berkecimpung di dunia sistem informasi dan pengembangan aplikasi, tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah data flow diagram alias DFD. Pasalnya, data flow diagram adalah hal yang terbilang penting untuk membuat alur kerja. Bagaimana caranya?

Pahami Apa Itu DFD

Sebelum mengenal lebih jauh tentang DFD, ada baiknya Anda memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan DFD itu sendiri. Pada dasarnya, DFD alias Data Flow Diagram merupakan ilustrasi alur dari suatu program.

Pengertian Data Flow Diagram (DFD)

Secara umum, pengertian data flow diagram yakni gambaran dari alur informasi yang dimulai dari proses input sampai dengan proses output suatu sistem. Penggunaan DFD dilakukan karena ada banyak alur kerja sulit untuk digambarkan dengan deskripsi kata.

Diagram banyak digunakan karena dianggap lebih efektif. Terlebih pada proses pengembangan (development), DFD mampu menjabarkan dan menganalisis suatu sistem secara lebih mendalam. Analisis inilah yang kemudian akan diterjemahkan dalam coding.

Anda mungkin pernah mendengar istilah flowchart. Meskipun mirip, sejatinya antara DFD dan flowchart berbeda. Flowchart banyak menjelaskan alur kerja dan prosedur pada sistem software, sedangkan DFD hanya menunjukkan alur data pada sistem tersebut.

Penulisan data flow diagram dilakukan secara paralel atau serentak. Berbeda dengan flowchart yang harus dibuat secara berurutan. Meski demikian, keduanya sama-sama dapat dibuat secara manual ataupun menggunakan aplikasi khusus.

Jenis Data Flow Diagram

Ketika memahami data flow diagram, Anda juga harus mengetahui jika DFD sendiri terbagi menjadi tiga jenis. Semuanya memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Adapun pembuatannya sendiri dapat disesuaikan dengan kebutuhan proyek dan manajemen tim.

Baca Juga:  Quality Assurance (QA): Pengertian, Jenis, Tugas dan Skillnya
Jenis Data Flow Diagram

1. Diagram level 0

Atau juga disebut dengan diagram konteks. Merupakan diagram dengan tingkatan yang paling rendah karena menggambarkan sistem yang berinteraksi dengan eksternal. Pada diagram ini, akan ada untuk setiap proses dan dimulai dari angka 0.

Guna keperluan tertentu, setiap informasi yang ada di DFD level 0 ini tidak memiliki korelasi terhadap basis data. Dengan demikian, setiap aliran data akan langsung mengarah dan menuju ke dalam sistem.

2. Diagram level 1

Seperti yang sudah diketahui, data flow diagram adalah bagan yang dirancang supaya informasi dapat lebih mudah dipahami. Hal inilah yang kemudian disampaikan pada DFD level 1 di mana proses penjabaran informasi dilakukan setelah melewati DFD level 0.

Informasi pada DFD level lanjutan ini akan dipecah menjadi unit yang lebih kecil sehingga proses yang berjalan akan ditulis secara lebih rinci. Dengan begitu, informasi yang tersampaikan akan semakin mudah untuk dipahami.

3. Diagram level 2

Jenis lain dari DFD yaitu level 2 yang juga merupakan lanjutan dari DFD level 1. Di sejumlah kasus, DFD level 2 ini akan dibuat ketika membutuhkan deskripsi dan penjelasan yang jauh lebih rinci dari proses sebelumnya.

Dapat dikatakan jika tidak semua sistem memiliki DFD pada level lanjutan ini. Hal ini berarti DFD level 2 pada dasarnya tidak selalu wajib dibuat. Pembuatan data flow diagram adalah hal yang dilakukan apabila informasi detail mengenai sistem benar-benar dibutuhkan.

Fungsi DFD yang Harus Diketahui

Selain pengertian dan jenisnya, hal yang juga tidak kalah penting untuk Anda pahami dari sebuah DFD adalah fungsinya. Memang, fungsi DFD banyak berkaitan dengan informasi alur suatu sistem, namun secara lebih rinci berikut peranan DFD yang perlu Anda pahami.

1. Visualisasi sistem yang saling terkait

Salah satu fungsi data flow diagram yang paling penting adalah bagaimana menggambarkan sebuah sistem dan alur kerja sebagai suatu kesatuan. Di dalam alur kerja tersebut, kita akan mengetahui secara lebih detail komponen DFD yang saling berkaitan.

Informasi yang disampaikan pada DFD akan memberikan gambaran dan insight mengenai proses pembuatan sistem dan progress kerjanya. Dengan demikian, penggambaran sistem secara visual akan terlihat lebih fungsional.

Baca Juga:  Belajar Cara Menggunakan Transpose Excel Menyenangkan

2. Media perancangan model

Pembuatan diagram ini juga akan menjadi suatu rancangan model yang menekankan fungsi sistem tertentu. Dengan demikian, Anda dapat memanfaatkannya untuk melihat lebih detail bagian yang terkait dengan alur data informasi tersebut.

Sebagai suatu informasi, data flow diagram adalah alur yang sistematis. Anda dapat memprioritaskan fungsi dari suatu sistem guna melihat manakan alur kerja yang lebih rinci. Dengan begitu, Anda akan lebih mudah fokus pada bagian penting suatu rancangan model.

3. Sebagai informasi rancangan sistem

DFD memiliki fungsi lain yang juga berkaitan dengan penyampaian rancangan atau desain sistem. Sebenarnya, DFD dikembangkan untuk dapat menggambarkan alur kerja yang dibuat melalui penggambaran dengan pendekatan secara visual.

Dengan adanya DFD, pihak eksternal juga akan lebih mudah memahami rancangan kerja yang akan dilakukan. Tidak hanya pihak pembuat, namun juga berbagai pihak lain seperti klien, developer, bahkan programmer.

Contoh Penggunaan DFD

Pembuatan data flow diagram adalah hal yang gampang-gampang susah. Diperlukan pemahaman yang mendalam serta riset untuk dapat menggambarkan DFD secara optimal dan mudah dipahami oleh banyak orang.

Setidaknya, Anda perlu memahami tentang simbol yang digunakan dan langkah-langkah pembuatannya. Berikut secara umum hal-hal yang perlu Anda perhatikan ketika membuat dan menggunakan DFD.

Simbol data flow diagram

1. Pahami simbol yang digunakan

Ketika menggunakan DFD, ada baiknya Anda paham dengan simbol yang digunakan. Setidaknya, ada 4 jenis simbol yakni data store berbentuk dua garis sejajar horizontal, simbol data flow dengan garis panah, simbol process yang berbentuk lingkaran atau persegi sudut bulat, dan external entity yang berbentuk kotak dan persegi panjang.

2. Proses data store

Selanjutnya, pastikan kembali semua informasi yang ada pada basis data sudah siap diproses untuk dapat memproduksi output. Jangan sampai ada yang terlewat karena setiap data store harus diproses lebih lanjut.

3. Tentukan input dan output

Dalam membuat contoh data flow diagram, Anda juga perlu memastikan bahwa setidaknya terdapat satu inputan dan satu keluaran. Hal ini karena alur DFD sejatinya harus mencerminkan bagaimana alur suatu sistem dari tahap awal sampai dengan tahap akhir.

Baca Juga:  Metaverse Adalah Dunia Virtual Masa Depan

4. Pastikan hubungan tiap data store

Jangan lupa untuk memastikan ulang apakah setiap data store tersebut terhubung dengan setidaknya satu input dan satu output. Dengan demikian, data yang masuk menuju sistem dapat lebih mudah terekam masing-masing pada satu unit.

5. Cek posisi tiap proses

Selain itu, pastikan kembali jika alur kerja yang ditulis sudah melalui rangkaian beberapa proses sehingga menghasilkan output sesuai kebutuhannya. Setiap proses sejatinya juga harus dapat tersimpan pada setiap data store. Itulah beberapa hal mengenai data flow diagram alias DFD.

Pembuatan data flow diagram adalah hal yang sangat penting, namun tidak semua orang mampu. Oleh karena itu, Anda perlu berlatih bersama Coding Studio sebagai lembaga kursus IT online terkemuka. Segera hubungi Coding Studio untuk informasi kursus IT terbaik!