A/B Testing Adalah: Pengertian, Cara dan Manfaatnya

A/B testing adalah suatu teknik pengujian yang dipakai untuk membandingkan 2 versi elemen pada suatu produk, seperti halaman web dan aplikasi mobile. Benda tersebut dibandingkan sebagai varian A serta varian B. Umumnya dari kedua benda tersebut memiliki kesamaan yang cukup mendasar dan juga memiliki perbedaan yang bisa dibandingkan. 

Perbedaan yang bisa dibandingkan, seperti ukuran, warna, posisi dan elemen-elemen yang lainnya. Bisa jadi satu dengan yang lainnya memiliki kualitas yang perlu ditangani berbeda bagi pengguna. Nah, setelah cukup memahami apa itu A B testing, simak juga manfaat, cara melakukan pengujian dan contohnya di bawah ini. 

Manfaat AB Testing

Manfaat A/B Testing

Beberapa manfaat melakukan teknik pengujian A B Testing adalah: 

1. Meningkatkan Conversion Rate

Conversion rate jadi tujuan akhir di setiap marketing campaign, namun tidak hanya terbatas dengan pembelian saja. Hal ini karena aktivitas, seperti download, klik dan submit formulir identitas bisa jadi tujuan yang menguntungkan bagi Anda. Saat melakukan A/B testing tersebut bisa memberikan data apa saha yang dapat mendukung audiens untuk melakukan aktivitas tersebut. 

2. Meningkatkan Traffic

Interaksi audiens saat melakukan A/B testing bisa memberikan banyak data yang berharga bagi pebisnis seperti headline iklan apa yang banyak mendatangkan klik. 

3. Memudahkan Audiens

Manfaat berikutnya dari A/B testing adalah untuk memudahkan audiens melihat serta mengikuti arahan yang sudah tersedia. Pengalaman yang dirasakan oleh audiens bisa berdampak dengan pengambilan keputusan akhir. Beberapa tombol yang terlihat bisa dibuat menarik supaya audiens penasaran dan sebaiknya jangan diletakkan di tempat yang sulit untuk dijangkau. 

4. Menurunkan Bounce Rate

Bounce rate adalah metrik untuk mengindikasikan rata-rata total pengguna yang meninggalkan email atau halaman web secara langsung setelah mereka membukanya. Bounce rate jadi salah satu musuh bagi para marketer sebab menandakan ada hal yang membuat pengunjung meninggalkan halaman tersebut tanpa melakukan apa pun. A/B testing juga dapat membantu menguju elemen yang dapat membuat pengunjung tetap bertahan serta berakhir mengikuti call-to-action yang tersedia. 

Baca Juga:  Apa Itu Certification Authority (CA): Pengertian, Fungsi dan Jenisnya

5. Penyesuaian Strategi Pemasaran

A/B testing dapat membantu Anda mendapatkan wawasan mengenai perilaku dan preferensi audiens. Setelah memahami apa yang menarik bagi audiens, Anda bisa menyesuaikan strategi pemasaran yang lebih tepat dan mengoptimalkan komunikasi demi mendapatkan target audiens dengan baik. 

6. Menghemat Biaya dan Sumber Daya

A/B testing sangat bermanfaat untuk menghindari menghabiskan banyak sumber daya dan biaya yang belum teruji. Dengan cara menguji perubahan dengan skala kecil menggunakan A/B testing, maka Anda bisa mengidentifikasi adanya perubahan secara signifikan sebelum menerapkan secara luas agar lebih menghemat uang, waktu dan upaya yang dilakukan. 

Nah, bisa dikatakan bahwa A/B testing adalah strategi membandingkan performa 2 versi elemen, seperti gambar, headline dan desain untuk melihat manakah yang paling menarik audiens. Strategi ini akan menguji versi A ke versi B supaya dapat mengukur mana yang berhasil berdasarkan dengan metrik utama bisnis. 

Cara AB Testing pada Bisnis

Cara A/B Testing pada Bisnis 

Saat menggunakan A/B testing, ada beberapa tahapan yang tidak boleh Anda lakukan sembarangan. Nah, di bawah ini penjelasan langkah-langkah A/B testing pada bisnis yang perlu Anda pahami: 

1. Menentukan Tujuannya

Menentukan tujuan melakukan A/B testing merupakan langkah pertama yang harus dilakukan. Tujuan melakukan A/B testing yang jelas bisa membantu Anda untuk mengarahkan pengambilan keputusan serta memastikan jika data yang dikumpulkan sesuai dengan tujuan bisnisnya. 

2. Membuat Hipotesis

Bulatlah hipotesis secara spesifik serta terukur supaya bisa diuji. Contohnya tujuan Anda meningkatkan konversi, maka hipotesisnya seperti “ Jika mengubah warna tombol CTA dari hijau ke merah, maka konversi dapat meningkat 10%”. Nah, kemudian hipotesis tersebut bisa diuji menggunakan A/B testing. 

3. Merancang Eksperimen

Langkah berikutnya melakukan A/B testing adalah merancang eksperimen akan melibatkan pemilihan jenis elemen yang diuju, seperti ukuran gambar atau warna tombol CTA serta membuat dua variasi dari elemen tersebut. 

4. Pengumpulan Data

Apabila eksperimen dirancang serta diluncurkan, proses berikutnya adalah pengumpulan data. Data tersebut harus diambil pada periode waktu yang cukup untuk memperoleh sampel yang besar untuk melakukan analisis. Pada periode waktu ini, penting sekali untuk memastikan bahwa kondisi pengujian tetap atau konstan, sehingga hasil yang didapatkan valid. 

Baca Juga:  Remarketing: Pengertian, Tujuan, Manfaat dan Strateginya

5. Menganalisis Hasil

Apabila data sudah berhasil dikumpulkan, kemudian tinggal menganalisis hasilnya. Bedanya dari variasi A dan B perlu dianalisis secara statistik agar memastikan perbedaan tersebut signifikan. 

Apabila perbedaan signifikan, maka hasil pengujiannya bisa dipakai untuk membuat keputusan dalam bisnis yang lebih baik. Namun jika hasilnya tidak, hipotesis perlu ditinju lagi dan pengujian bisa diulang menggunakan variasi yang berbeda. 

Contoh A/B Testing

Contoh melakukan A/B testing pada sebuah situs e-commerce yang ingin meningkatkan konversi di halaman checkout yang mereka miliki. Setelah melakukan analisa data, mereka menemukan bahwa banyak pengguna yang meninggalkan halaman tersebut sebelum menyelesaikan pembelian. Nah, mereka ingin menguji 2 variasi tombol “Beli Sekarang” untuk dapat melihat mana yang lebih efektif untuk meningkatkan konversi. 

Solusinya adalah situs e-commerce tersebut dapat melakukan A/B testing dengan menampilkan 2 variasi tombol “ Beli Sekarang” menggunakan warna yang berbeda. Variasi A memakai warna merah dan variasi B memakai warna hijau. Apabila data sudah terkumpul selama beberapa waktu, maka mereka mendapati hasil variasi A warna merah mempunyai tingkat konversi lebih tinggi dibandingkan B. 

Nah, jadi hasilnya, bisa mengubah warna tombol “Beli Sekarang” jadi warna merah untuk meningkatkan konversi di halaman checkout situs e-commerce mereka. Berdasarkan penjelasan di atas, A/B testing adalah teknik pengujian yang dipakai untuk membandingkan 2 versi elemen pada suatu produk tertentu. Selain perlu melakukan teknik pengujian A/B testing untuk mengembangkan bisnis Anda, namun juga perlu mempelajari digital marketing yang bisa Anda dapatkan di Coding Studio.